Welcome to the Fantastic World of Yuan Zhi Yi

Rabu, 02 Juni 2010

HARTA BAGIKU

Pagi yang cerah, matahari mulai mengembangkan senyum manisnya, menembus jendela kaca asramaku. Silaunya membuatku tertantang untuk melawan ritangan hidup ini. Seberani itukah aku? Atau hanya gubrakan sesaat saja? Semuanya akan kubuktikan jika semua itu memang bukan pelita sesaat. Api? Yupz, kobaran api di jiwaku ini mampu melelehkan bongkahan es di kutub. Kiasan yang terlalu menyombongkan diri. Tapi itu tebukti saat 2 hari lalu, sepasang mata dengan lentik dan indah menatapku penuh selidik dan pesona.
Kubuka lagi halaman selanjutnya, hampir sama dan kulanjutkan aktifitasku ini. Mataku tertarik saat ada sebuahgambar menyerupai sketsa gadis yang indah, menarik, dan ayu parasnya yang tak dapat tertutupi dengan kain yang membalut kepala dengan rambut indahnya. Disitu juga terdapat bros mungil yang ada di pundak kirinya, tak begitu jelas motif apa yang membuatnya indah, seperti kupu-kupu tapi entah apa. Kembangan senyumnya seimbang dengan deret indah dari giginya. Bagai sengaja tertata di pojok kanan buku harian itu tertulis angka 158. terlalu banyak ukuran jumlah halaman sebuah buku harian. Ini memang buku yang ketiga yang pernah kutemui, tapi 2 sebelumnya entah kemana dan ku pun tak tahu keberadaanya.
Ku terperanjat saat di sudut kiri buku itu tertulis nama Chatty. ”Itu kan nama yang diberikn kedua orang tuaku, itu namaku?”, gumamku dalam hati. Aku masih tak percaya jika pria ini tak pernah punya hobi menggambar. Mungkin dia punya bakat yang terpendam. Kurasa bukan itu. Masih ku ingat 2 tahun lalu, saat aku masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Sebuah angka yang menyerupai huruf ”G” terpatri di buku gambarnya, aku pun kagum, tersanjung dan tak percaya. Sesempurna itukah aku memujinya? Oh tidak! Mungkin aku hanya mengaguminya sebaga hal yang biasa.
Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Semua orang yang bertemu denganku pasti akan aku sapa seperti hari-hari biasaku. Pagi itum tiba-tiba Jony kakak kelas dan sekaligus kekasih baruku datang ke kelasku untuk menemuiku. Eh, tidak ada angin dan tidak ada hujan dia marah-marah padaku. Entah apa sebabnya dan apa salahku sampai-sampai dia marah padaku seperti itu, namun aku hanya bisa diam tanpa kata. (eh, seperti lagunya D’massiv, ”Diam Tanpa Kata) lalu kubiarkan dia pergi dari kelasku tanpa ku tanggapi apa pun ocehan-ocehan yang diucapkan padaku. Dan aku tak peduli apa yang dia katakan padaku.
Waktu menunjukkan pukul 07.00, seperti biasa aku mulai pelajaran. Ketika pelajaran ”Sejarah” yang membahas tentang naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh Indonesia, aku jadi teringat tentang pria yang ada dan punya buku harian itu. Sampai di rumah pun aku tetap masih kepikiran olehnya, sebenarnya aku sudah berusaha untuk tak akan memikirkannya lagi, tapi aku tak bisa.
Saat aku belajar pun aku masih tetap memikirkannya, tak dapat kupungkiri jika otakku terus terpikir olehnya. ”Sebenarnya, siapa siapa sih cowok itu? Rasanya aku pernah kenal dia. Tapi udah aku inget-inget tetap aja aku lupa dan tak ingat sedikit pun tentangnya. Ya Tuhan, Tolong tunjukkan jalanMu.”, renungku. Jadi, waktu belajarku tersita demi dia.
Tiba-tiba aku teringat dengan Jony, seharian ini dia tak sekali pun SMS atau pun menelponku. Aku juga teringat dengan kejadian tadi pagi, saat Jony marah-marah tanpa sebab kepadaku. Kucoba untuk menghubunginya, tapi dia tak sekalipun menanggapi telepon dan SMS dariku. ”Kenapa sih kamu, Jony? Aku nggak tahu apa maksud kamu berkata seperti tadi? Sayang, tolong jawab pertanyaanku donk.”, kataku kepada Jony di dalam SMS ku.
Seminggu telah berlalu aku masih tetap terikirdeng pria dalam buku harian itu dan tak kalah penting aku masih bingung apa sebab Jony marah kepadaku. Pria itu bagaikan misteri tanpa ujung dan rasanya sulit untuk di pecahkan. Hari-hariku penuh dengan pikiran-pikiran tentang pria itu. Sampai-sampai aku melupakan Jony, kekasihku.
Angin semerbak menggugurkan daun-daun yang ada di taman sekolahku. Saat istirahat ke-2 aku duduk terdiam dan sendiri di depan kelasku. Tiba-tiba teman baikku mulai dari kelas 5 SD sampai sekarang, Charin datang padaku. Entah ada apa dia datang tiba-tiba tanpa memberi kabar padaku terlebih dahulu dan ini tak seperti biasanya. ”Hay Chatty. Apa kabar?”, sapa Charin padaku. ”Hay Charin. Baik-baik aja. Nggak biasanya kamu datang tiba-tiba seperti ini tanpa kasih kabar pula, ada angin apa buk?”, jawabku dengan sedikit canda. ”Aku kesini hanya ingin cerita sama kamu tentang beberapa hal yang penting banget untukmu.”, jawab Charin yang sepertinya ingin membahas hal-hal yang penting. ”Tentang aku? Yang bener? Emangnya apa’an sih, Rin?, tanyaku dengan sedikit rasa penasaran. ” Yupz. Gini, Chat. Aku pengen cerita’in plus jelaskan secara rici kepadamu tentang semua hal yang berkaitan dengan pria yang membuat penasaran itu.”, jawab Charin padaku.
Dia menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, sampai-sampai aku menangis mendengar cerita itu. Eh ternyata, cowok yang selama ini aku pikirkan dan cowok yang punya buku harian yang di dalamnya tedapat namaku adalah Marco. Dia adalah seorang pria yang pernah singgah di dalam lubuk hatiku dan orang yang paling aku sayang setelah orang tuaku. Memang aku, Charin dan Marco bersahabat sejak kecil, dan sejak kelas 7 SMP aku jatuh cinta pada Marco begitu pula Marco dan akhirnya mulai itu kami berpacaran. Marco selalu ada waktu untukku dan dia selalu perhatian padaku. Namun saat kami kelas 9 SMP, aku terpaksa pindah sekolah ke Bandung karena pekerjaan papku pindah kesana. Dan akhirnya kami bertiga terpisah namun aku selalu mencoba untuk menghubungi Marco. Tetapi Marco tak pernah menanggapinya, seolah dia tak peduli kepadaku dan dia meninggalkanku entah apa sebabnya.
Charin juga mengatakan padaku bahwa marco masih mencintaiku hingga akhir hayatnya. ”Chatty, Marco itu masih cinta dan sayang sama kamu. Dia meninggalkanmu karena dia sayang banget sama kamu dan yang nggak kalah penting dia nggak pengen kamu terluka dan sedih jika kamu kehilangan dia nantinya. Dia memang sengaja pergi dari kehidupanmu, karena dia telah divonis oleh dokter kalu dia mengidap kanker tulang satadium akhir gara-gara tabrakannya waktu kelas 8 SMP dulu, dan dia menyuruhku untuk mengatakan semua ini padamu saat kita sudah kelas 11 SMA, dan inilah saatnya.”, jelas Charin padaku. Aku menangis tersedu-sedu dan air mataku terus berlinang dan berceceran di lantai depan kelasku seolah-olah sulit untuk dihentikan.
”Charin, sekarang Marco dimana? Dan gimana keadaanya?”, tanyaku kepada Chrin dengan penuh prihatin. Charin menjelaskan lagi padaku, ”Chat, akan kuceritakan semua tentang Marco. Nmun kau harus janji padaku, kau tak boleh menangisi semua ini dan jangan terlarut dalam kesedihan ini.” ”iya Charin, aku tak akan terlarut dalam kesedihan ini dan apa pun yang kamu katakan sekarang ini akan kudengarkan. Gimana Charin? Gimana keadaan Marco saat ini? Ayo Charin ceritakan padaku!”, desakku kepada Charin untuk cepat menceritakan bagaimana keadaan Marco saat ini.
”Oke Chatty, aku akan jelaskan semuanya. Hiks, hiks, hiks. Chatty, sebenarnya Marco......” “sebenarnya kenapa, Rin?”, desakku. “Sebenarnya…… Marco sudah pergi ke alam baka untuk meninggalkan kita selamanya sejak keals 9 SMP dulu, ketika kita pindah kesini.”, terang Charin. ”Apa Charin? Aku tak percaya dengan semua ini. Semua itu nggak bener kan, Rin? Kamu Cuma bercanda doank kan? Kamu bohong kan? Hiks, hiks, hiks, hiks.”, tanyaku dengan tak percaya dan mendesak sambil aku menangis.
”Iya! Iya, Chatty! Semua ini beneran, aku nggak mungkin bohongin kamu dan aku nggak mungkin rekayasa semua ini. Aku kan teman baikmu sejak dulu. Kamu kan sahabatku yang aku sayangi. Sebenarnya aku juga nggak tega katakan semua ini padamu, Chatty. Aku nggak pengen kamu sedih, Chatty.”, tegas Charin padaku. ”Oh tidak Charin! Aku bener-benr shock sama semu ini, aku nggak percaya, Charin.”, kataku sambil menangis. ”Chatty, percaya nggak percaya kamu harus tetap percaya dengan semua ini. Ini sudah suratan tuhan yang nggak mungkin bisa kita ubah dengan sendirinya. Tapi Chatty, yang harus kamu ingat dan kamu kenang selamanya, dia meninggalkan sesuatu yang berharga baginya dn mungkin bagimu juga, yaitu buku harian yang telah kamu temukan di meja belajarku dan inilah barangnya untukmu. Kamu harus simpan buku ini dengan baik-baik dan jangan sampai kamu hilang’in.”, terang Charin padaku. Aku terus menangis tanpa henti-henti tapi aku sadar bahwa seberapa pun aku menangis, itu tak mungkin mengubah semua ini untuk kembali seperti semula. Aku tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Charin tadi.
”Oh ya, Chat. Satu hal lagi yang harus kamu ingat bahwa Marco sampai sekarang masih tetap mencintaimu sampai saai ini, walupun kalian telah terpisah di dunia berbeda. Namun hal itu tak menjadi masalah untuk tetap kalian saling cinta. Tapi hal itu jangan kau buat ini semua menjadi hal yang membuat beban hidupmu. Anggaplah Marco sebagai masa lalumu dan anggap dia sebagai kenangan dan harta terindah yang penah kamu miliki. Tetaplah jalani hidupmu seperti hari-hari biasanya dan jadikan Jony sebagai masa kini dan masa depanmu. Dan jangan tepuruk terlalu dalam untuk ini semua. Jangan bikin hidupmu susah, tetaplah semangat dan gapailah masa depanmu. Okey Chatty?”, jelas Charin lagi sambil menangis dan memberi semangat padaku. ”Iya Charin. Aku nggak akan terus bersedih-sedih dengan semua ini. Aku akan tatp masa depan dengan penuh semangat. Biarkan semua ini sebagai kenangan terindah di hidupku.”, kataku. ”Cayoooo Chatty!”, sorakku bersama Charin.
Tiba-tiba bel berbunyi, suaranya bagai suara serigala yang mengaum di tengah-tengah malam yang sunyi. Dan Charin pun kembali ke kelasnya, begitu pula aku. ”Bye!”, sorakku bersama Charin. Saat pelajaran dan sampai rumah pun aku masih terpikir oleh kata-kata Charin tadi. Tapi akhirnya aku lega juga karena misteri ini sudah terkuak dengan jelas dan aku tahu sebab Marco nggak pernah menghubungi aku. Aku akan tetap bertekat untuk mengenang Marco sebagai orang yang berarti dalam hidupku dan saat ini Jony yang akan jadi pengganti Marco di hatiku dan di kehidupan baruku.
Seperti biasanya aku pergi ke sekolah tepat pukul 06.45, tiba-tiba Jony datang ke kelasku untuk meminta maaf padaku. ”Chatty, aku minta maaf atas semua ini, karena aku salah paham dengan apa yang di katakan Charin padaku waktu lalu.”, kata Jhony padaku. ”Memangnya Charin ngomong apa, Jhon?”, tanyaku dengan penuh penasaran. Lalu Jhony menerangkan lagi padaku, ”Seminggu yang lalu aku tanya sama Charin, mengapa kamu terlihat sedih dan nggak peduli dengan penampilanmu. Lalu dia jawab kalau mungkin kamu itu memikirkan seseorang cowok yaitu Marco. Tapi aku nggak sampai selesai ngengerin apa yang dikatakan Charin dan aku langsung pergi ke kelasmu dengan penuh amarah seperti waktu itu. Dan aku mengira kalau kamu menduakan cintaku dengan cowok lain. Jadi maafin aku ya sayang? Kamu mau kan maafin aku?”, terang Jhony dengan penuh penyesalan dan memohon maaf.
”Oh ternyata begitu ceritanya? Tak kusangka. Ya, aku mau maafin kamu tapi kamu harus janji kalau kamu nggak boleh cepat emosi dengan segala sesuatu dan apa pun yang terjadi padamu atau pun orang lain. Kamu janji ya?”, pintaku pada Jhony. Jhony menjawab, ”Iya sayang, aku janji kalau aku nggak akan ngulangi ulahku itu lagi. Apa sih yang kamu minta pasti aku akan berusaha penuhin itu. So, kamu maafin aku kan?” ”Ya, iya aku maafin kamu. Mungkin saat itu kamu lagi khilaf. Itu wajar kok. Nggak apa-apa. Dan makasih ya kak, kamu telah penuhin apa yang aku minta.”, jawabku. ”Ya, sayang. Ya udah ini mau masuk dan aku juga mau kembali ke kelas dulu. Belajar yang rajin ya biar pinter kayak aku. Hahahahahah”, kata Jhony padaku. ”Iya, kamu juga belajar yang rajin ya? Sampai nanti ya?”, kataku. Lalu Jhony menjawab dan pergi ke kelasnya, ”Iya, sampai nanti juga.”
Apa pun yang telah terjadi aku tak mempedulikannya lagi karena itu semua sudah tak berguna dn tak berarti lagi bagi hidupku. Mulai saat ini aku akan jalani hari hariku denag Jhony dan dunia baruku. Aku akan terus tetap berprestasi dalam bidang study yang aku tekuni ini untuk bisa kuliah di luar negeri dan bisa mambahagiakan orang tuaku dengan semua prestasi yang telah aku capai saat ini dan nanti. Dan aku juga akan jadikan Marco sebagi harta yang terindah dan paling berharga yang pernah aku miliki selama ini. Akun akn jalani setiap rintangan hidup ini dan menunggu apa yang akan terjadi nanti.

۞۞۞ TAMAT۞۞۞

Tidak ada komentar: